Saturday, November 23, 2013

Luka.

Angin masih saja membisu, sekalipun berulang kali dia melintasi telingaku. Tanpa ada pesan kecil yang dibawanya. Aku masih menunggu disisa-sisa kecil semangat pagi yang tidak pernah pergi sekalipun, disisa-sisa semangat yang masih mencoba membakar dan menyisahkan pesan jika semuanya masih akan baik-baik saja. Senyumku tak pernah sepahit ini, akhir-akhir ini tidak pernah ada lagi luka yang menganga dan terkena hembusan angin dingin, luka itu sudah mengaring, namun kemabli terangkat dan basah hingga kembali membuatnya perih. Aku pikir aku tidak akan pernah bisa menutup luka itu untuk waktu-waktu saat ini, yang bisa kulakukan hanya melihat dan merasakan bahwa luka itu tak akan kunjung mengering lagi untuk kedua kalinya. Lihat aku, aku hanya bisa diam membisu. Aku hanya bisa duduk dan ditemani pandangan kosong yang tak tahu kemana arah pandangan itu berjalan. Aku hanya bisa berucap dalam hati, lewat doa aku menyampaikan luka ini. Tuhan, sampai kapan aku harus menunggu balutan lukaku ini (lagi)?

0 write your words :):

 
Blogger Template by Ipietoon Blogger Template