Tuesday, November 12, 2013

Hampir Dua Tahun Setelah Kepergianmu

H
ampir dua tahun sudah semua bayang dan semua kenangan itu musnah tanpa ada jejak yang harus tertinggal. Dan dua tahun lamanya, pergumulan baru yang terus bergulir mungkin harus berakhir. Aku tidak pernah menyalahkan jika Tuhan lebih menuntunku ke arah yang “terbaik” yang diciptakanNya untukku. Aku bersyukur. Satu nama dan banyak kenangan itu telah kembali. entahlah, aku juga tidak mengerti.

Nama itu semakin bergulir, semakin bertanda-tanya akan sebuah keyakinan (lagi). Dalam bisuku aku seringkali mengucapkan tanpa ada jeda. Dan dalam butaku, aku selalu membayangkan sosoknya yang datang lagi dan menggandengku kelak. Hari demi hari terlah berganti, tidak akan bisa kembali ke masa dimana yang dulu pernah terjadi. Ya, seperti kenangan yang masih saja tetap terlihat jelas di atas sebuah kertas yang usang, sebuah kenangan kecil yang tidak semudah itu dilupakan.
Terakhir kali aku melihatmu ada di eman bulan belakang. Yang saling bertatapan dan bersapa kecil ditengah jalan. Dan terakhir aku melihat sosokmu nyata ada di bulan lalu, hanya melihat. Tidak saling menyapa dan bertatap. Hanya berucap doa dalam hati, “hati-hati”. Dan terakhir setelah semua yang tidak pernah terjadi, namun terjadi lagi. Kamu datang menghampiri di malam yang begitu tenang ketika tidurku sudah pulas dan tidak ada lagi beban tanggungan di perkulihan. Kau datang, datang dengan pelukan dan senyummu yang tidak pernah ada yang memilikinya sama denganmu.

Sosokmu samar-samar saat akan kembali. dan terlihat jelas saat kau datang dimalam itu. Aku kembali menemukan senyummu. Aku kembali mendapatkan pelukan hangat tubuhmu. Dan aku mendapat beberapa kata yang tidak pernah aku duga dari kedatangamu malam itu. Bisakah Tuhan menjelaskan apa yang terjadi? Atau saat itu semua hanya halusinasiku? Mungkin saja, ya mungkin saja. Pikiranku terlalu pendek untuk mengartikan semuanya. Jelas, aku masih “mengasihimu”. Aku masih memikirkanmu, walau selang hampir dua tahun sejak aku bisa menghapusmu dari otakku. Aku tidak bisa menolak apa yang terjadi, ataukah aku terlalu lemah untuk mengijinkan otakku masih saja memikirkanmu? Aku tidak sakit. Dan aku merasa otakku masih berada dibawah kendaliku jika aku memikirkanmu.
Sosokmu malam itu datang dengan berbagai cara. Tanpa ada pandangan yang sama diantara kita. Kau kembali dengan beberapa cara yang sama, senyum simpulmu yang tidak pernah usang dan berbeda. Kau juga masih seperti biasanya, bertindak konyol dan usil untuk orang lain. Dan sosokmu nyata akan satu pelukan dan pengakuan didepan kedua mataku. Aku hangat. Aku menangis. Ada satu pengakuan yang tidak pernah ada yang menduga sebelumnya. Aku tersadar sepersekian detik jika semuanya terjadi. Hal yang telah lama pergi dan kini kembali. ada satu “keyakinan” baru yang kini tumbuh walau aku masih saja tidak pernah mengerti akan hal ini. terakhir kali aku “menyebut nama yang sebelumnya” dan pertama kali “kuulangi nama yang dahulu”. Itu berbeda. Berbeda dari banyak sudut pandangan. Aku kembali menunggumu. Membawamu dalam doaku ketika malam. Aku berharap kau baik-baik saja disana.

Kau kembali. sosokmu kembali setelah hampir dua tahun menghilang dari arah pikiranku. Kertas usang itupun juga sudah tidak lagi seusang dulu, kenangan yang dulu pernah ada kini kembali terlihat jelas. Aku tahu kehadiranmu tidak pernah aku duga sebelumnya jika kembali. apakah malam itu hanya sebuah halusinasi ataukah sebuah pertanda? Masih ada lebih dari empat tahun kedepan untuk menunggu semuanya. Menunggu jawaban yang dulu sempat dipergumulkan dan kini kembali dipergumulkan. Dan pasti ada jawaban.

“apa kau tahu jika aku yang dari dulu menyayangimu?”
Kau tersenyum. Tangamu membelai rambutku. Memeluk erat tubuhku.
“apa kau tidak berpikir sama jika aku juga menyayangimu dari dulu?”
Kau memelukku lagi, semakin erat. Dan aku menangis dalam pelukanmu.



-r-

0 write your words :):

 
Blogger Template by Ipietoon Blogger Template