Tuesday, April 30, 2013

Senyum Sampingmu

siang yang enggan berganti siang. kendaraan semakin memadati jalan raya yang terbentang ditengah kota. deretan laju mobil berada disebelah kanan, dan deretan laju kendaraan bermotor berjajar rapi disebelah kiri. sesaat jalanan menjadi sepi. langkah kaki ingin menyeberangpun semakin tinggi.
aku terhenti. sang kawan masih sibuk melambaikan tangan untuk membiarkan kendaraan yang lain terhenti dan meleluasakan kami menyeberang kali ini. tanpa sebuah dugaan, tak ada yang pernah menduga jika sesuatu terjadi.

setahun belakangan kita lama tidak berjumpa. melupakanmu adalah hal yang biasa aku lakukan, karena satu hal "aku menyanggupinya". belakangan aku kembali menemukan namamu, dalam daftar orang yang pernah aku titipi rasa. aku hanya sebagian kecil dari pengagummu. yang seringkali aku katakan, "batasku adalah mengaggumimu. saat ini. tidak lagi menyukaimu". mengubur dalam namamu, mengungkit kembali rasaku. aku masih seringkali menyebut namamu dalam malamku.
jarak dan waktu yang berada jauh diantara aku dan kamu. kamu dan dia. sementara aku juga dengan dia "yang sama halnya denganmu dulu". sebatas sebuah pertemanan kecil. dengan perbedaan bahwa kau "mendadak jauh sejak kau tahu aku menyukaimu". sementara dia "masih tetap bersikap biasa walau dia tahu aku menyukainya". ya, biarlah. aku merelakan apa yang harus terjadi sekarang. aku merasa lebih baik saat ini. tanpa ada lagi namamu dalam malamku.

aku tidak pernah menduga, ketika Tuhan selalu memberikan sesuatu sebagai sebuah kejutan instimewa. kala malam datang, bibirku tak mampu berhenti untuk tak sekalipun berucap akan namamu. iya, aku masih merindukanmu. boleh aku kembali mengingat akan setiap bintang yang aku tunjuk ketika malam dahulu? aku ingin bertanya, bisakah doaku kala itu kembali dijawab?
satu hal yang membuatku lemah. seluruh tubuh menjadi lemah. kau panggil lagi namaku. lama aku tidak mendengar sapaanmu. lama aku tidak melihat senyum sampingmu. senyummu yang jauh berbeda dari kebanyakan orang. senyum sampingmu tak pernah dimiliki orang lain. tak ada orang lain yang sama. sama sepertimu. kamu berbeda. terutama dalam hal ketika kau tunjukkan senyummu padaku.
sapaan yang lama tak terdengar.
lirikan mata yang lama tak terlihat, serta..
senyuman sampingmu yang sederhana mampu melemahkan segala syaraf dalam tubuhku.
tahukah kamu?
kawanku hanya melihatku. menungguku sambil tersenyum. menemaniku tertawa sesaat setalah ada dirimu. dia tahu kamu. dia sahabatku yang tahu "sebagian darimu" hanya saja, "dia tidak melihatmu secara keseluruhan saat tadi".

terimakasih kepada Tuhan untuk akhir yang begitu indah. hal yang telah setahun belakangan terkubur, kembali dibangkitkan. sejujurnya, menunggumu kembali adalah keinginanku, namun aku tidak berkata "menyanggupi secara utuh". berkata, "membiarkanmu pergi terbawa angin siang itu lebih baik, daripada aku harus memgikuti langkah kakimu". memang, dua garis yang berpisah suatu ketika akan kembali bertemu di titik tengahnya. aku dan kamu. kamu dan dia. aku dan dia. masing-masing. aku tanpa dia atau kamu tanpa dia, dan hanya kita. Tuhan beri aku satu lagi, kesempatan untuk bercengkrama. mendengar ia menyapa. mendnegar dentingan gitar yang ia mainkan. kembali ke masa dulu. tanpa da dia yang baru. tanpa ada dia yang dimilikinya.

sang kawan kembali tersenyum. berceloteh tentang namanya yang aku ucapkan siapa dia dengan laju kendaraannya dihadapan kami. sang kawan hanya ingin tahu. seberapa besar aku ingin bertemu dengan dia? lantas, orang yang bisa sang kawan temukan setiap hari? orang yang berbeda dan berada pada jarak dan waktu yang sama? bisakah membuat segalanya selbih baik dari dia yang kembali tersenyum dengan senyum sampingnya untukku?
aku hanya ingin menjawab, "senyuman sampingnya mengingatkanku akan banyak cerita dahulu. tahun-tahun yang telah berlalu."

0 write your words :):

 
Blogger Template by Ipietoon Blogger Template