Saturday, February 23, 2013

Pangeran Bertopeng dan Berkuda Putih (7) - end.

..
hari ini samapailah aku dan kuda putihku digerbang kota negeri selatan. kalau aku tak salah, kata Raja hari ini adalah hari ulangtahun sang puteri. suara didalam kota terdengar keras hingga diluar tembok pembatas kota dan hutan. sepertinya ribuan rakyat sudah dengan setia menanti dan mempersiapkan kejutan untukmu, ya. mungkin saja.
aku tersenyum.
"akhirnya aku sampai juga." gumamku.
aku melangkahkan kakiku memasuki gerbang kota ini. gerbang yang besar telah menyambutku di depan. kedua penjaga yang ramah nampaknya sudah tak asing bagiku. mereka sering menemui Raja sewaktu mendapat tugas untuk membawa surat ataupun hanya membawa beberapa barang yang Raja negeri selatan inigin berikan pada Raja. aku mulai melangkah, aku berjalan disamping kuda putihku. aku melihat disekelilingku, rumah-rumah penduduk disepanjang jalan menjuju pusat kota amat ramai dengan hiasan warna-warni untuk menyambut hari ini, hari ulang tahun puteri. diujung jalan aku melihat poster besar wajahmu, puteri. dan ucapan kecil selamat ulangtahun dari seluruh warga kota. aku yakin, hari ini akan menjadi hari bahagiamu.

ayahmu menyambutku. mungkin aku belum berkenalan dekat dengan beliau. aku telah disambut denga luar biasa oleh warga kotamu. hari ini. saat ini aku duduk bersama lima pemuda yang seperti anak gembala itu katakan. mereka selamat rupanya ketika melewati hutan itu.
aku melihatmu duduk di sebelah kiri ayahmu, wajah elokmu dengan jelas aku lihat kembali hari ini, setelah setelahs ekian lama kita tidak bertemu. aku tersenyum memandangmu. aku tahu ini bukan akhir dari perjalanan yang sesungguhnya. ini adalah awal.
sejenak sebuah pikiran kecil mengelilingi otakku, bertanya, bagaimana jika saat itu aku memilih menyerah dan tidak memperjuangkan rasaku untukmu? kembali pulang dan melakukan semuanya dengan instan? menembus hutan dan meninggalkan kuda berhargaku ditepi sungai hanya untukmu? atau mungkin memilih wanita lain yang ada di negeriku sendiri untuk kunikahi? itu sangat konyol. aku sangat bersyukur ketika aku sekarang bisa berada disini, melihatmu dari jauh. telah membuang perasaan tidak percayaku untuk menjemputmu disini. aku sudah disini. ini yang aku katakan aku benar-benar mencintaimu adalah saat aku benar-benar memperjuangkanmu tanpa menoleh apa dan siapa yang ada untuk menghalangi aku demi kau, puteri.

"selamat datang para pemuda dari 6 negeri yang berbeda. semua telah menjadi takdir kalian jika bersamaan bertemu ditempat ini. semua telah direncanakan jika kalian akan mencari puteriku sewaktu ia telah tumbuh menjadi dewasa seperti sekarang ini." sang Raja mulai berbicara. "aku tak tahu bagaimana cara kalian untuk sampai ke negeri selatan yang aku perintah ini. negeri yang jauh dan negeri yang tidak dengan mudah bisa ditembus dengan satua tau dua hari perjalanan. terimakasih untuk kalian yang masih dengan setia ingin memenangkan hati puteriku." lanjutnya. "ada beberapa hal yang harus ketahui, jika semua yang kalian alami di perjalanan adalah bagian dari misi untuk siapa kalian bisa benar-benar memperjuangkan cinta kalian dengan sepenuh hati pada puteriku. yang aku ingin tegaskan ialah, kalian harus tahu jika masing-masing dari kalian memiliki "kuda putih" yang itu harus dipertahankan hingga kalian sampai disini."

sesaat hatiku tertekan. satu pertanyaan? "kuda putih?" kudaku juga kah?
beebrapa pria muda disana juga mulai kebingungan memikirkan kuda putih mereka. bahkan beberapa sempat bergumam, "kudaku sudah mati saat sebelum aku masuk ke hutan yang rimbun itu"

Raja menegaskan kembali dalam beberapa kata, "kuda putih itu adalah syarat kesetiaan kalian untuk puteriku." aku tetap terdiam. Raja kemudian melanjutkan, "nak," sebuah elusan kecil tangan sang Raja mengenai pundakku. aku menoleh. "selamat, kau yang berhasil memenangkan sayembara untuk mendapatkan hati puteriku." jelasnya.
aku memandangi Raja selama beberapa waktu. masih tidak percaya akan hal itu. aku? memenangkan hatinya? hati puteri?
Raja kembali berkata dan mengajakku berdiri dihadapan jamuan makan malam terbesar di hari ulang tahu puterinya, "ini dialah orangnya. yang dengan setia mempertahankan perjuangan cintanya untuk puteriku. aku tahu perjalanan panjangnya dari negeri utara yang jauh itu membuatnya tak sekalipun "berpaling" untuk satu tujuan datang pada puteriku. selamat nak. aku sungguh bangga padamu. adakah yang ingin kau katakan?"

aku masih terdiam. tak mengerti dan tak tahu harus berkata apa. "saya.. saya hanya akan berkata jika saya sangat berterimakasih untuk semuanya. selama perjalanan menuju negeri selatan ini tentunya banyak rintangan yang saya hadapi. namun satu hal yang saya tahu jika semua tidak akan berakhir bahagia jika saya mengandalkan ego saya, dan saya mengandalkan keinstanan dunia yang ada. saya semakin diyakinkan saat bertemu orang-orang selama perjalanan kecil tersebut, semakin diyakinkan jika sebenarnya cinta adalah menganai satu perjuangan yang berharga. mungkin saja saya saat itu bisa "berpaling" ke orang lain atau pulang karena merasa lelah dengan perjalanan ini, mungkin saja saya merasa tidak akan mampu lagi untuk hal ini. namun pada kenyataannya hal-hal seperti itulah yang membuat saya "tidak goyah" dan terus berjuang untuk dia."

kemudian aku terdiam lagi sesaat. tidak ada lagi yang bisa aku katakan selanjutnya. semua yang terjadi berada diluar batas pikiranku. semua yang terjadi adalah "buah yang indah" dari perjuangan yang telah terlewati.
terimakasih untuk setiap orang yang pernah ada selama perjalanan kecil ini.
aku terdiam lagi.

---

sekarang, entah aku sudah tidak bisa mengungkapkannya lagi. smua terlalu bahagia. aku sudah mendapatkan "dia" puteri yang aku perjuangkan dari awalnya. selamat datang dipelukanku puteri, aku berjanji membuatmu bahagia.
dan terimakasih kuda putihku yang selalu dengan setia menemaniku :)



0 write your words :):

 
Blogger Template by Ipietoon Blogger Template