Monday, January 14, 2013

Pangeran Bertopeng dan Berkuda Putih (5)

..
apel yang menjatuhiku itu aku pungut dengan sukarela. sesekali perutku berbunyi menandakan bahwa ia sangat membutuhkan asupan nutrisi. satu demi satu apel yang jatuh itu aku pungut dan aku tata rapi di depan api unggunku yang sudah memadam. rupanya sejak semalam apel-apel itu berjatuhan, namun aku tak menyadari itu. gemercik air sungai itu begitu terasa menyegarkan, aku mengambil botol airku dan aku isi dengan air sungai yang bersih itu, kemudian aku berlari menuju kudaku yang duduk manis disana, aku membuka mulutnya, menuangkan setetes demi setetes kemulutnya, rupanya ia sangat kelelahan. 
     "hai kuda putihku, maafkan aku membawamu terlalu jauh."
matamu berbinar. seperti biasanya, kau tak pernah mengeluh saat denganku. kau selalu menurut padaku, pada setiap kataku.
aku kembali berjalan menuju dekat api unggunku, mengupas apel-apel itu untuk sarapan pagiku. sepotong demi sepotong, aku memakan apel itu.

diseberang sungai ini adalah sebuah hutan. hutan yang begitu rimbun dengan pohon-pohon tua yang besar. Raja pernah berkata padaku, jika negeri sang puteri ada dibalik hutan tersebut. dan hutan ini adalah jalan pintas menuju negeri selatan dimana sang puteri berasal. jika aku berhasil melewatinya, kelak aku akan lebih cepat sampai dihadapan puteri daripada kelima pemuda lainnya yang merupakan saningan terberatku saat ini.
aku membulatkan tekad, menuruti apa yang raja pernah katakan, melewati hutan yang rimbun ini dan sampai lebih cepat. namun aku kembali melontarkan pandanganku kedalam hutaan yang begitu lebat itu, begitu rapat, seolah hutan itu gelap, sinar matahari rupanya sulit menembus rapatnya daun-daun dan ranting-ranting yang besar dan tumbuh dengan suburnya itu.
kemudian keraguan kembali menghampiriku. mengajakku berpikir dua kali untuk masuk dan melewatinya. mungkin aku mampu masuk kedalam hutan itu? lalu bagimana kuda putihku? bukankah ia akan kesusahan saat berjalan di area yang sangat sempit itu. sedikit celahpun seolah tak ada untuk memijakkan kaki di tanah, yang ada hanyalah akar-akar pohon-pohon besar yang tua yang saling membalap untuk tumbuh besar.

aku menoleh pada si kuda putihku itu. aku tak tega jika demi keinginanku harus mengorbankan ia melewati hutan ini. jika aku membawanya melewati hutan ini tentunya akan memeprlambat langkahku, namun jika tidak aku melewati hutan ini, perjalanan jauh lebih panjang menuju negeri selatan.
aku terdiam.
sekawanan domba berlari menuju tepian sungai ini, beberapa diantaranya berhenti disamping kuda putihku yang sibuk mengunyah rerumputan segar pagi hari. seorang anak gembala berjalan agak jauh dibelakang kawanan domba-dombanya. ia terlihat masih anak-anak.

     "hai nak, kemarilah." terikakku padanya. entahlah aku tak tahu mengapa aku meneriakinya. kemudian anak gembala itu berlari menuju tempatku berdiam.
    "ya Tuan, ada apa? apa ada yang bisa saya bantu sehingga tuan memanggil saya?" tanyanya. "itu kuda putih Tuan sangat tampan. apakah saya harus mencarikannya makanan? saya lihat dia begitu berselera makan." lanjutnya.
     "oh tidak nak. aku hanya hendak bertanya padamu. apa kau tahu tentang hutan ini?" tanyaku pada anak  gembala itu.
     "oh, Tuhan hendak melewati hutan ini? hutan ini adalah hutan Rimba namanya. hutan yang paling tua diantara hutan-hutan lainnya. hutan ini begitu gelap Tuah. sangat mustahil untuk melewatinya." terangnya.
     "apakah kau tahu jika hutan ini menuju negeri selatan?" tanyaku lagi.
anak gembala itu mengangguk. "ya Tuan benar. hutan ini jalan pintas menuju negeri selatan. namun mustahil jika Tuan akan melewatinya."
     "mengapa?"
     "hutan ini sudah ribuan tahun menjadi gelap karena pada zaman dahulu ada seorang raja yang membuang berbagai tanaman dari negerinya, entahlah dari mana ia berasal. ia membuang segala tanaman yang ada di negerinya, karena negerinya terlalu hijau dan terlalu banyak tumbuhan yang hidup melebihi kapasitas pertumbuhan tumbuhan karena pupuk yang begitu mudah didapatkan, hingga negeri itu pun hampir tak terlihat dimana pusat kegiatan kota dilakukan. rajapun memutuskan untuk membuang segala tanaman yang tumbuh melebihi kapasitas pertumbuhannya ke tempat ini. dan ternyata tumbuhan-tumbuhan itu tumbuh semakin membesar, rimbun, dan rapat. demikianlah jadinya seperti sekarang, di dalam menjadi gelap. tak ada sinar matahari. dan udara juga begitu tak mendukung. belum seperempat perjalanan melewati hutan ini, banyak orang kembali. lebih baik memutar daripada mati di dalam." anak gembala itu bercerita.
     "siapakah Raja itu?" tanyaku.
     "tidak ada yang tahu Tuan. saat itu disini hanya beberapa saja penduduk yang menempati. dan seberang sungai ini bukan sudah berbeda wilayah." lanjutnya. "kalau saya boleh tahu apakah Tuan itu adalah pemuda yang emncari puteri negeri selatan?"
     "ya. darimana kau tahu?"
     "aku hanya menebak saja. barangkali benar. aku telah bertemu lima orang pemuda juga. dan mereka ingin menuju negeri selatan. dan mereka juga memiliki kuda-kuda putih seperti ini. aku seringkali disuruh memberikan makan kuda mereka. oh ya, mereka ke negeri selatan untuk mencari puteri."
     "oh. apakah kau juga pernah tahu tentang jalan pintas menuju tempat itu? maksudku negeri selatan itu?" tanyaku padanya.
     "lebih baik Tuan melewati jalan yang memutar dan jauh daripada mencari yang singkat. apakah sebuah cinta bisa didapatkan dengan cara yang singkat dan pintas tuan? tentunya tidak. cinta lebih banyak memperhitungkan tentang perjuaangan tuan yang akan menunjukkan betapa besar perasaan hati tuan pada sang puteri."
    "mengapa kau menasehatiku seperti itu? usiamu masih muda. belum tahu tentang cinta."
     "aku memang masih muda. namun aku sudah tahu banyak hal. dan yang aku sarankan adalah Tuan melewati jalan yang jauh namun jalan itu baik adanya. karena lima pemuda yang sebelumnya nekat melwati hutan rimba, entahlah bagaimana mereka, dua diantaranya meniggalkan kudanya ditempat ini hingga sakit dan hampir mati. dua diantaranya menitipkan kuda putih seperti itu pada saya. dan satu yang terakhir sebelum tuan berjalan bersama kudanya melewati hutan itu."

aku terdiam lagi. anak gembala ini terlalu bijak. apakah aku akan membawa kudaku melewati hutan ini atau aku harus memutar dan sedikit mulai kehilangan kepercayaan mendapatkan puteri karena aku harus datang terlambat padanya?

bersambung..

0 write your words :):

 
Blogger Template by Ipietoon Blogger Template