Tuesday, August 7, 2012

Daun dan Pohon

Daun dan Pohon. 26 july 2012. 08.20

Aku selembar daun. Aku tumbuh dari ranting yang menempel pada sebatang pohon. Aku hijau. Aku penuh dengan kesegaran. Dan aku juga selalu menciptakan oksigen yang membantu manusia bernafas. Pohon yang aku tempeli adalah pohon yang besar, kuat, dan selalu melindungi banyak hal-hal sederhana yang bernaung padaNya. Dia pohon. Dan Dia pokok dari segalanya.

Sebagaimana pohon biasanya. Pohon tidak hanya memiliki satu daun saja kan? Namun memiliki banyak daun-daun lainnya. Aku satu daun yang masih muda. Sama seperti daun yang lain. Ya daun yang lain itu adalah temanku. Kami tumbuh dalam satu masa yang sama. Dan kami sama-sama tumbuh menjadi daun-daun yang cantik. Aku sellau berharap, semua daun yang tumbuh disini akan terus ada bersamaku, bersama-sama tumbuh, menhijaukan pohon ini, memberikan kesejukan, dan memberikan suasana hijau yang menyegarkan mata bila banyak orang memandang dari kejauhan. Dan aku ingin menjadi daun yang semakin tumbuh dan semakin kuat, dan tetap terus bertahan pada ranting yang menumbuhkanku.

Sepertinya, aku salah. Daun-daun yang lain tidak selamanya akan bersamaku tumbuh disini. Saat mereka sudah menemukan kehidupan mereka yang lebih menyenangkan, mereka pergi. Ya mereka terlepas dan pergi terbawa angin entah kemana. Satu per satu, daun yang lainnya meninggalkanku, terlepas dari ranting yang selama ini menjadi pokok mereka. Mereka jauh terbawa angin. Tak tahu akan sampai kemana. Daun yang dulunya teman bagiku, secara cepet meninggalkanku karena gelombang angin memebawanya pergi dengan kebahagiaan.

Angin bertiup semakin keras. Hampir semua daun yang dekat denganku, pergi dan tak kembali. mereka masih sama-sama hijau sama seperti denganku, namun angin melepaskan mereka dan memebawa kebahagiaan bagi mereka, sehingga aku terlupa. Aku sebagai teman lamanya masih menanti mereka kembali, akankah? Rupanya untuk kembali menempel pada ranting-ranting yang semakin sepi ini suash sekali. Mereka pergi meninggalkanku. Pergi dengan kebahagiaan baru mereka.

Namun aku tetap disini, menunggu mereka pulang dan menyapaku, “hai daun”. Namun itu mustahil terlaksana. Sekarang aku sudah tak lagi hijau. Aku sudah semakin memerah dan menguning. Aku masih seringkali menengok ke ranting lainnya, akankah daun-daun yang pergi itu kembali lagi? Sepertinya tidak. Dan tanpa aku sadar, sekarang hanya tinggal aku, selembar daun yang menguning masih tetap menempel pada pohon ini. Aku semakin rapuh. Dan bahkan aku sudah semakin sendiri sejak aku makin menghijau. Hingga kini tangkai kecilku semakin rapuh. Tak kuat menopangku. Aku sudah siap, aku terlepas sebagai daun yang terakhir dari pohon ini. Aku mati.

Namun yang aku tahu, selama aku bertahan dari hijaunya daun, hingga aku menguning dan jatuh, pohonlah yang tetap setia menemaniku. Menghiburku. Tak peduli teman-teman daunku yang lain pergi bahagia terbawa angin lalu yang menerbangkan mereka kemanapun tanpa kembali, pohonlah yang selalu setia menemaniku. Bercerita bersama, tertawa, bahkan berbagi duka bersama. Disaat daun-daun yang lainnya pergi, aku tak pernah sendiri ada Engkau, Pohon yang paling setia. Saat semua pergi berlalu dariku, terimakasih pohon. Kini aku sudah terjatuh dari rantingmu, dan mati dibawah akarmu.
(daun yang pergi itu seperti teman-teman yang kau miliki, yang pergi tanpa kembali dengan kebahagiaan yang angin telah tiupkan. Sedangkan engkau seperti selembar daun yang tumbuh dari hijau hingga menguning, dan mati karena waktu. Sampai setua apapun kau masih menunggu temanmu kembali (daun-daun yang lain). Sedangkan pohon menggambarkan Tuhan yang selalu ada setiap waktu. Ada untukmu. Membuat hidupku bahagia. Menceriakan dirimu, menghiburmu, dan mengajarkanmu tetap menempel pada rantingnya, sekalipun masalahmu berat. Dia setia)


with love and pray,
the owner of this blog,
@rosikangagelina

0 write your words :):

 
Blogger Template by Ipietoon Blogger Template